Postingan

Benarkah Islam Disebarkan dengan Pedang?

Gambar
Sebuah Bantahan atas “Fitnah Besar” Isu bahwa “Islam disebarkan dengan pedang” telah lama menjadi senjata retoris musuh-musuh Islam. Mereka menuduh bahwa orang masuk Islam bukan karena pilihan dan keyakinan, tetapi karena paksaan dan ancaman senjata. Mereka menjadikan konsep jihad sebagai bukti, lalu menyimpulkan: Islam adalah agama kekerasan. Lebih jauh lagi, sebagian misionaris dan orientalis membandingkannya dengan Kristen. Mereka berkata: “Lihat, Muhammad menyeru kepada perang dan jihad, artinya memaksa manusia dengan pedang agar masuk Islam. Sedangkan agama Kristen menolak perang, membenci pertumpahan darah, menyeru kepada damai dan kasih.” Tulisan ini hendak menelusuri, benarkah tuduhan itu? Ataukah ia hanyalah sebuah fitnah besar yang diulang-ulang hingga tampak seolah-olah kebenaran? ________________________________________ Jihad Bukan Paksaan Masuk Islam Hal pertama yang perlu diluruskan adalah perbedaan antara jihad dan pemaksaan agama. Jihad dalam Islam disyariatkan bukan un...

Rihlah Ibnu Bathutah #42 : Di Negeri Rum, Ramadan Bersama Sultan Akridur hingga Perjalanan ke Ladziq dan Milas

Gambar
Jejak Ramadan di Negeri Rum: Dari Akridur sampai Milas Di sebuah negeri bernama Akridur, yang juga dikenal sebagai Akşehir, berdirilah pemerintahan seorang sultan besar bernama Abu Ishaq Bek bin Dandar Bek. Orang-orang menyebutnya bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi juga karena perangainya yang baik. Ia pernah tinggal di Mesir pada masa ayahnya, dan ia pun pernah menunaikan ibadah haji. Bekas perjalanan jauh itu seolah membuatnya semakin lembut dalam sikap dan dekat dengan ibadah. Setiap hari, ia punya kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan. Menjelang sore, ia datang ke masjid jami’ untuk menunaikan shalat Ashar. Seusai shalat, ia tidak buru-buru pulang. Ia bersandar tenang di tembok arah kiblat, sementara di hadapannya para qari’ duduk di atas mimbar kayu yang tinggi. Mereka melantunkan Surah Al-Fath dan Surah Al-Mulk dengan suara yang indah, meresap ke dalam dada, membuat hati tunduk, bulu roma merinding, dan air mata jatuh tanpa terasa. Setelah suasana itu usai, barulah ia kemb...

Semangat Berjihad dan Meraih Kemuliaan Syahid

Gambar
Dorongan Berjihad dan Syahid Di dalam hati setiap Muslim, terdapat seruan yang luhur: berjuang di jalan Allah, atau jihad. Ini bukan sekadar perang, tetapi perjuangan total mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkan kalimat Allah, melindungi akidah, dan menyebarkan cahaya Islam yang membawa keadilan dan kebaikan. Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan kemuliaan yang tak terhingga bagi mereka yang menjawab seruan ini. Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh a...

Rihlah Ibnu Bathutah #41 : Antalya, Keindahan Kota dan Tradisi Al-Akhiyah

Gambar
Perjalanan di Pesisir Rum: Dari Al-‘Alāyā ke Anṭāliyā, Menyusuri Kota-Kota Bertembok dan Kedermawanan Para Pemuda Hari Sabtu itu aku berangkat bersama Qadhi Jalaluddin. Kami menempuh perjalanan untuk menemui penguasa Al-‘Alāyā, Yusuf Bek. Gelar “Bek” di negeri itu bermakna raja, dan Yusuf Bek dikenal sebagai putra Qaraman. Rumah tinggalnya tidak berada tepat di dalam kota, melainkan sekitar sepuluh mil dari sana. Ketika kami tiba, pemandangan yang kulihat begitu jelas menunjukkan tata kuasa: sang raja duduk sendirian di tepi pantai, di atas sebuah tanah tinggi seperti gundukan bukit kecil. Di bawahnya, para amir dan wazir berdiri menunggu; sementara pasukan berjajar di kanan dan kirinya. Rambut sang raja tampak diwarnai hitam pekat. Aku memberi salam. Ia menanyai maksud kedatanganku. Aku menjawab pertanyaannya sebaik yang kubisa, lalu berpamitan. Tak lama setelah itu ia mengirimkan kepadaku sebuah pemberian sebagai bentuk penghormatan. ________________________________________ Anṭāliyā,...

Jihad dalam Islam: Antara Kewajiban dan Kisah-Kisah Keteladanan

Gambar
Di tengah pembahasan panjang tentang kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, para ulama juga menjelaskan dengan rinci tentang jihad: apa hukumnya, kapan ia wajib, dan bagaimana para sahabat mengamalkannya. Dari penjelasan itu, tersusunlah sebuah rangkaian kisah dan pelajaran yang indah—bukan hanya soal perang, tetapi tentang pengorbanan, keberanian, dan keikhlasan. ________________________________________ Jihad sebagai Fardhu Kifayah Pertama-tama, para ulama menjelaskan bahwa pada asalnya jihad dalam Islam adalah fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif. Artinya, kewajiban ini tidak harus dilakukan oleh setiap individu secara langsung. Bila sudah ada sekelompok kaum muslimin yang cukup kuat untuk membela agama dan menolak serangan musuh, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain dan mereka tidak berdosa. Namun, bila tidak ada jumlah yang mencukupi untuk melaksanakan jihad, padahal musuh mengancam dan Islam membutuhkan pembelaan, maka dosa menimpa seluruh umat, sampai ada sekelompok orang yang bang...

Rihlah Ibnu Bathutah #40 : Dari Zawiyah Para Wali hingga Lautan yang Hampir Menelannya

Gambar
Kisah Sultan Lar dan Perjalanan Panjang Sang Pengelana Di sebuah kota, aku singgah di negeri yang dipimpin seorang sultan bernama Jalaluddin, seorang Turkmen. Dari kejauhan aku mendengar kabar tentangnya: ia mengirimkan jamuan untuk kami, seakan ingin memuliakan musafir yang lewat. Namun anehnya, meski jamuan itu sampai, aku tidak sempat bertemu dengannya, bahkan tidak melihat wajah sang sultan sama sekali. Seperti angin: jejaknya terasa, tetapi sosoknya tak tampak. Tak lama kemudian rombongan yang kuikuti kembali bergerak. Kami menuju sebuah kota bernama Khunjubal. Di sana ada seorang tokoh yang menjadi tujuan utama kunjunganku: Syaikh Abu Dalf. Kami pun menginap di zawiyah miliknya, sebuah tempat singgah bagi orang-orang yang mencari ilmu, ketenangan, dan barakah. Zawiyah yang Sederhana, Tuan yang Luar Biasa Saat pertama kali aku masuk, mataku langsung menangkap sosok seorang syaikh yang duduk menyendiri di salah satu sudut, langsung di atas tanah. Pakaiannya sederhana: jubah wol hij...

Rihlah Ibnu Bathutah #39 : Kabar dari Oman hingga Hormuz

Gambar
Kabar dari Oman hingga Hormuz: Catatan Perjalanan yang Membuka Mata Namaku adalah seorang pengembara yang menuliskan apa yang kulihat, kudengar, dan kualami di negeri-negeri yang kulewati. Pada satu masa dalam perjalanan itu, aku singgah di Oman, lalu menyeberang menuju Hormuz, dan dari sana menembus padang pasir yang kejam hingga tiba di negeri-negeri yang lebih jauh. Inilah kisahnya, dari awal sampai akhir, sebagaimana catatan itu mengalir dalam ingatanku. ________________________________________ Majlis Terbuka Sang Sultan Oman Di Oman, aku mendengar kabar tentang seorang penguasa dari suku Arab Al-Azd bin Al-Ghauts. Namanya Abu Muhammad bin Nabhan. Orang-orang menyebut “Abu Muhammad” bukan semata nama pribadi, melainkan gelar bagi sultan yang memerintah Oman, sebagaimana di negeri lain ada gelar-gelar khusus untuk raja mereka. Yang paling mengesankan bagiku adalah kebiasaan sultan ini. Ia sering duduk di luar pintu rumahnya, di sebuah majlis yang memang disediakan di sana. Ia tidak ...