Jangan Abaikan Panggilan

By | 22 Agustus 2014

Setelah beberapa saat teman yang dicari pengunjung datang dan kemudian mereka berjabat tangan. Saat melakukan pekerjaan di kantor yang menumpuk, saya menangkap arah pembicaraan mereka. Ternyata mereka adalah Guru dan Murid. Mahasiswa sangat antusias untuk berbagi pengalaman dengan gurunya yang sekarang berada di depannya. Sebut saja gurunya Pak Amir dan muridnya adalah Anwar. Setelah beberapa saat berbicara anwar meminta izin untuk melakukan sholat Dhuur. Kebetulan sudah masuk waktu sholat dhuzur.

Setelah sholat, lalu Anwar kembali ke kamar Pak Amir. Pak Amir kemudian bertanya tentang karya Anwar. Anwar menjawab “Alhamdulillah Pak, hasil usaha saya sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak saya”. Iseng tentu saja saya bertanya, “apa pekerjaan mas?”. Dia menjawab “hanya bisnis warnet”. Pertanyaannya kemudian saya lanjutkan, “jangan hilangkan bisnis mas cafe pada saat seperti ini?”. Dia menjawab “Alhamdulillah, untungnya sudah ada yang siap kok”. Dia menyebutkan bahwa omset kafe per hari tidak pernah kurang dari 100 ribu.

Sebuah jawaban aneh dalam pikiranku. Bagaimana mungkin di banyak bisnis warnet yang ada dia bisa mendapatkan omset sampai 100 ribu? Obrolan berhenti di sini.

Saat aku melihat wajahnya, ada tanda di keningnya. Lalu aku mencoba bertanya tentang luka di keningnya. Dia menanggapi kecelakaan itu. Ceritanya seperti ini.

Sore itu dia dari Surabaya pergi ke Malang karena ada bisnis. Di daerah pandaan – Pasuruan, ia mendengar panggilan shalat dzuhur sudah bergema. Apakah dia mengucapkan ungkapan “ah sebentar, manggung, nanti semua sholat dzuhur di Malang. Asalkan jalanan sepi dan tidak macet”. Beberapa menit kemudian ia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak motor yang tiba-tiba berhenti di depannya. Akhir cerita akhirnya dia berurusan dengan pihak berwenang apalagi korban meninggal. Dia dipenjara karena kecelakaan itu.

Akhir cerita, untuk memecahkan masalah kecelakaan ia menghabiskan tidak kurang dari 90 juta. Selain mensponsori keluarga korban kecelakaan, uang tersebut juga digunakan untuk menebus kendaraan yang dipegang sebagai bukti. Coba bayangkan berapa uangnya. Tapi anwar sangat bersyukur dia baru kehilangan 90 juta.

Mendengar pidatonya saya hanya bisa mendesah panjang. Lalu anwar melanjutkan ceritanya. Rupanya dia membuat satu kesalahan fatal dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan itu. Karena dia menunda waktu sholat dzuhur di jalan. Lalu saya bertanya, apakah salah menunda waktu sholat apalagi di jalan?

Anwar menjawab “Mas … jika Anda memanggil anak Anda begitu anak Anda datang, apakah Anda bahagia atau marah?”. Saya menjawab “bahagia”. Lalu dia bertanya kembali “jika Anda memanggil anak Anda tapi anak itu mengatakan, sebentar, sibuk setiap neh, bagaimana perasaan Anda?”. Saya jawab lagi “ya kesel mas, masak anak-anak yang disebut ayahnya malah memberi waktu tempo”.

Kemudian Anwar kembali bertanya kepada saya “Jika Allah SWT yang memanggil Anda, untuk segera melakukan sholat, melalui kumandang panggilan suara untuk sholat dan Anda tidak segera datang, tentang Tuhan Yang Maha Esa bagaimana ya mas?”

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena kenyataan bahwa selama pekerjaan saya, meski ada suara panggilan untuk sholat, saya selalu tidak berdoa tepat waktu. “Lalu saya bertanya kepada anda pembaca.