Karena Ukuran Kita Bukan Sama

By | 13 September 2012

Seorang pria tinggi besar berlari melewati tengah lapangan. Sore itu, matahari tampak mendekat satu inci. Pasirnya terbakar, ranting-rantingnya terbakar di udara yang keras dan panas. Dan dia masih berlari. Pria itu menutupi wajahnya dari pasir yang terbang dengan sorbannya, mengejar dan menggiring seekor unta.

Di padang rumput tidak jauh dari situ, berdiri teluk pribadi yang berjendela. Pemiliknya, ‘Utsman ibn’ Affan, sedang beristirahat sambil menyanyikan Al-Quran, dengan mencocokkan air dingin dan buahnya. Saat melihat pria itu berkeliaran dan mengenalnya,

“Masya Allah” ‘Utsman berseru, “Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, orang jangkung yang agung adalah ‘Umar ibn al Khaththab.

“Ya Amirul Mukminin!” Utsman berteriak sekuat tenaga dari pintu dukuunya,

“Apa yang kamu lakukan dengan angin kencang ini? Kemarilah!”

Dinding tenun di samping Uthman berderak kencang dalam angin kencang.

“Seekor unta unta terpisah dari kawanannya, saya takut Tuhan akan bertanya kepada saya, saya akan menangkapnya, masuk ‘Utsman!’ “Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bergema dengan lembah dan bukit di seluruh lapangan.

“Kemari!” Teriak Utsman, “Saya akan menyuruh pembantu saya menangkapnya untuk Anda!”.

“Tidak!”, Jawab Umar, “Masuki Utsman! Ayo!”

“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta akan sembuh.”

“Tidak, ini tanggung jawab saya, masuki Anda O ‘Utsman, angin semakin kencang, badai pasir mengamuk!”

Angin semakin kencang dengan butiran pasir yang membara. ‘Utsman masuk dan menutup pintu duku-nya. Dia bersandar dan bergumam,

“Demi Allah, jadilah Dia dan Rasul-Nya, kamu seperti Musa, orang yang kuat dipercaya.”

‘Umar bukan’ Utsman. Begitu juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing unik dengan karakter khasnya.