Kisah Anak Pembeli Es Krim

By | 13 September 2012

Anak itu mengeluarkan uang dari sakunya dan menghitungnya. “Hmmm … bagaimana dengan es krim biasa?” tanyanya lagi.

Saat itu, banyak pelanggan yang menunggu untuk dilayani. Dan pelayannya menjadi tidak sabar. “35 sen,” jawabnya kasar.

Anak laki-laki itu menghitung uangnya sekali lagi dengan hati-hati. “Saya adalah pesan biasa,” lanjutnya.

Tak lama kemudian, pelayan mengambil pesanan anak laki-laki itu dan meletakkan bonnya di atas meja, lalu dia pergi. Setelah menghabiskan es krimnya, dia membayar kasir dan dedaunan. Saat pelayan hendak membersihkan meja yang dikenakan anak laki-laki itu, dia terkejut dan mulai menangis. Selain piring tempat es krimnya terselip dua koin seharga 5 sen dan lima koin seharga 1 sen. Inilah sebabnya mengapa anak laki-laki itu tidak memesan es krim es krim karena ia ingin memberi uang itu tip yang layak untuk pelayannya.

Tidakkah kita sering berperilaku seperti pelayan? Selalu cepat menilai orang lain. Selalu melihat situasi atau peristiwa dari satu sisi saja. Sesuatu yang terlihat buruk di satu sisi tidak selalu buruk baik di sisi lain.

Seperti dalam cerita di atas, tindakan anak laki-laki yang membuat pelayan kesal itu berujung pada niat dan niat baik. Dan, sayangnya, sang pelayan menyadarinya terlambat. Nah, sebelum kita mengalami hal yang sama seperti pelayan, mari belajar memahami sebuah acara atau seseorang dari semua sisi, agar kita bisa mengambil tindakan atau mengeluarkan kata-kata yang tidak akan kita sesali di masa depan.