Kisah Inspirasi: Jawaban yang Elegan dari Manusia Bakso

By | 8 September 2012

Saat tangan itu sedikit kotoran ditutupi tanah kotor, … terdengar tek tek … tekek .. tek … suara bakso tukang bakso lewat. Sambil menyeka keringat …, saya menghentikan bakso dan memesan beberapa baskom bakso setelah bertanya kepada anak-anak, siapa yang mau bakso?

“Mauuuuuuuuuuuu …”, serentak dan kompak anak asuh saya menanggapinya.

Selesai makan bakso, lalu saya bayar. …

Ada satu hal yang menggelitik pikiran saya selama masa ini ketika saya membayarnya, bakso baker memisahkan uang yang ia terima. Satu disimpan di laci, satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng seperti kencleng. Lalu aku bertanya untuk rasa ingin tahu saya sepanjang waktu.

“Mang kalau bisa tahu kenapa uangnya – uangnya terpisah? Mungkin ada tujuannya?” “Ya pak, Emang telah memisahkan uang ini saat menjadi bakso baker yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya yang sederhana, Emang hanya ingin memisahkan apa Emang yang tepat, yang merupakan hak orang lain / tempat ibadah, dan mana hak – tujuan menyempurnakan iman “.

“Artinya .. …?”, Saya terus bertanya.

“Ya pak, ini agama dan Tuhan dorong kita untuk berbagi satu sama lain.Bagi membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut:

1. Uang masuk ke dalam dompet, yang berarti memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarga Emang.

2. Uang yang masuk ke dalam laci, artinya untuk infaq / sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun sebagai bakso pria, Emang selalu mengikuti qurban seekor kambing, meski kambingnya berukuran sedang.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang adalah islam. Islam mewajibkan orang-orangnya yang cakap, untuk melakukan ziarah. Ziarah ini akan memakan biaya banyak. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri sepakat bahwa dalam setiap penghasilan harian dari penjualan bakso, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan ziarah. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melakukan ziarah.

Hatiku sangat …… ….. sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Ini jawaban yang sederhana untuk itu yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari pembangun emang bakso, belum tentu memiliki pemikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan sering berlindung dibalik yang tidak memadai atau sial.

Saya terus bertanya sedikit, sebagai berikut: “Ya memang bagus …, tapi ziarah hanya dibutuhkan untuk bisa, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya ….”.

Dia menjawab, “Karena itulah Pak Emang merasa malu untuk berbicara tentang bisa atau tidak mampu, karena definisinya tidak mampu dengan hak RT atau paket RW, bukan hak Camat atau MUI.

Definisi “mampu” adalah definisi di mana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Jika kita mendefinisikan diri kita sebagai orang yang tidak mampu, maka mungkin kita selamanya akan menjadi manusia yang tidak mampu. Sebaliknya, jika kita mendefinisikan diri kita sendiri, “mampu”, maka insyaallah dengan segala otoritas dan otoritas yang Tuhan akan berikan kita kemampuan “.