Kisah Inspirasi Perangkap Tikus

By | 3 September 2012

Ayam yang mendengar suara itu memalingkan muka, “Ya ya iya … tapi itu masalah Anda, tetikus, berhenti berteriak, Anda membuat saya sakit kepala,” kata ayam dengan suara jengkel.

Sayangnya, tikus itu berlari dari kandang ayam ke kandang kambing. “Ada perangkap tikus di sana, perangkap tikus …” tikus itu memperingatkan.

Apa yang terjadi? Kambing sepertinya tidak peduli dan berkata, “Saya sedih, tapi bukan urusan saya,” lanjutnya.

Tikus kembali sedih karena kambing tidak peduli. Tapi dia tidak berhenti mengingatkan bahwa ada bahaya. Tikus berlari menuju kandang sapi. “Hati-hati, mohon waspada, petani memiliki perangkap tikus,”

Si sapi bahkan tertawa terbahak-bahak, “Oh tikus, itu bukan urusan saya, tidak perlu menyampaikan berita yang tidak perlu,” kata sapi itu dan tertawa lagi.

Akhirnya tikus itu kembali ke lubangnya dengan sedih, tidak ada yang peduli dengan kata-katanya.

Malam berikutnya, perangkap tikus menangkap sesuatu. Bila dilihat, bukan tikus yang terjebak, tapi ular berbisa yang masuk rumah. Lebih buruk lagi, seekor ular yang hampir mati karena terperangkap dalam perangkap tikus mematuk tangan istri petani.

Setelah perawatan, istri petani tidak membaik, demamnya sangat tinggi. Melihat hal itu, petani membantai ayamnya dan memanggangnya menjadi sup ayam untuk menurunkan demam istrinya, namun usaha itu sia-sia, karena istri petani tersebut meninggal keesokan harinya.

Banyak tamu yang datang di pemakaman, sehingga petani terpaksa membantai kambingnya agar bisa dilayani untuk menghormati tamu yang hadir. Dan ternyata, tamu yang datang lebih dan lebih, peternak memang punya banyak teman, jadi dia membantai seekor sapi untuk disajikan kepada tamu yang datang dan berkabung.

Tikus sangat sedih karena teman-teman di peternakan sudah kehabisan. Meski sempat diperingatkan teman-temannya untuk waspada. Akhirnya mereka hanya menjadi santapan para tamu yang datang.