Pelajaran Nenek Sapu

By | 27 Juli 2013

Ibu dan teman saya tergoda untuk membeli ayam goreng di depan pasar untuk makan malam. Kebetulan hari mulai gelap. Selain warung ayam goreng ada seorang nenek berpakaian lusuh seperti seorang pengemis, duduk bersimpuh tanpa tumpuan, sambil memeluk tiga sapu penyapu sapu. Situasinya tampak lumpuh, lemah, dan tak berdaya. Setelah membayar ayam goreng, ibu teman saya bermaksud memberi Rp. 1000, – (tahun 2004) karena kasihan dan menganggap nenek pengemis. Saat menyodorkan selembar uang tadi, tak terduga sang nenek menunduk kecewa dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi neneknya menolak.
Penjual ayam goreng yang kebetulan melihat kejadian tersebut kemudian menjelaskan bahwa neneknya bukan seorang pengemis, melainkan penjual sapu tangan. Memahami maksud keberadaan sebenarnya sang nenek, ibu teman saya akhirnya memutuskan untuk membeli tiga sapu seharga Rp. 1.500, – per bundel. Meski seratnya jarang dan tidak bagus, ikatannya longgar.

Menerima uang Rp. 5.000, – neneknya terlihat ngedumel sendiri. Ternyata dia tidak memiliki perubahan /
“Ambil saja perubahannya,” kata ibu teman saya. Namun, sang nenek bersikeras untuk menemukan kembalinya Rp. 500, -. Dia lalu bangkit dan dengan susah payah bertukar uang di toko terdekat.

Ibu teman saya tercengang melihat ucapan sang nenek. Sesampainya di mbol, dia masih berpikir, bagaimana mungkin di hari ini masih ada orang yang sangat jujur, mandiri, dan memiliki harga diri yang tinggi.

Omong-omong, sudahkah kamu bertemu seseorang yang mirip dengan nenek sapu ini? Semoga bisa berbagi cerita untuk kita semua.