Pelajari Syukur Dari Penjual Tape

By | 11 Oktober 2014

Hampir setiap hari ia melewati di depan rumah kontrakan saya saat masih tinggal mengontrak di kota Yogyakarta sekitar tahun 2002 – 2005. Bahkan kakek tua ini sering berhenti berlama-lama di depan rumah kontrakan, sampai saya keluar dan membeli tapenya.

Seringkali, akhirnya kami berteman. Dia layak menjadi ayahku, untuk melihat usianya. Sampai saya sering mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana di daerah Sleman.

Dengan kondisi rumah, penampilan dan bisnisnya, nampaknya ia hidup dalam berbagai bentuk kesulitan. Rumah itu adalah bambu berdinding anyaman, dengan ubin kuno yang ukurannya kecil, serta lantai dasar tanpa dinding semen sama sekali.

Jika musim hujan, selalu tiriskan, masuk ke dalam rumah, dan buat lantai rumah ditumbuhi rumput karena sering disiram hujan.

Di rumahnya tidak ada motor. Hanya ada satu pedal sepeda yang dia gunakan untuk menjual kaset di sekitar kota Jogja.

Yang sangat menakjubkan bagiku, dia sering bercerita tentang kebahagiaan hidupnya sebagai salesman rekaman. Tidak menceritakan tentang kepahitan hidup yang dialami.

Mungkin karena kepahitan sudah terasa setiap hari, rasanya tidak lagi berselera padanya. Apa yang dia rasakan lebih adalah sukacita, jadi itulah yang selalu dia katakan.

Ia selalu antusias menceritakan sukacita yang dirasakan saat ada “orang penting” membeli kaset singkongnya, bahkan selalu mengulang kisah seorang dokter yang berlangganan untuk membeli kasetnya.

Contoh kegembiraan semacam itu.

“Orang yang membeli rekaman saya adalah yang mengendarai mobil mereka bagus,” cerita tentang kakek dengan wajah yang bersinar sangat bahagia.

Saya bayangkan, mereka yang punya mobil belum tentu sepuasnya dengan kakek itu. Tapi kakek-nenek yang tidak punya mobil, hanya merasakan kebahagiaan yang tidak didapat pemilik mobil.

Begitulah cara dia menikmati hidup. Mungkin dia ingin memberitahunya, hidup ini terlalu bagus untuk disesali. Nikmati semua masalah dalam hidup, jadi kita selalu senang meski memiliki keterbatasan.