Penalaran Cerita tentang Mereka yang Ingin Mengambil Haji

By | 1 Oktober 2012

Namanya adalah Sukerti bin Saiman, dari Lombok Utara. Dia mengatakan kepada saya bahwa desanya adalah salah satu desa yang paling tidak beruntung dalam hal pembangunan dan ekonomi sosial. Di desa yang paling terbelakang ini, Pak Sukerti, menurutnya, adalah keluarga termiskin dari 300 keluarga. Dia hanya petani lahan kering, menanam jagung, diselingi kacang atau yang lainnya.

Tak ada apa pun dalam pikirannya untuk melakukan perjalanan jauh, yang harus mengeluarkan banyak uang dan persediaan. Tapi hari ini, di sini Pak Sukerti, melakukan Thawaf dan Sai. Bersama jutaan orang dari seluruh dunia, melakukan ziarah. Menjadi selibat, bertahmid, bertakbir, menyembah Ilahi.

Tidak ada alasan yang bisa dibangun untuk mencerna ini. Sukerti bin Saiman mencatat sejarah sebagai orang pertama yang memenuhi pilar kelima Islam dari desanya. Tidak ada yang percaya, tapi Allah telah menciptakan penyebabnya.

Dari Bandung, beberapa orang buta juga melakukan ibadah yang sama. Bersama-sama, saling menjaga. Terbanglah dari tempat yang jauh, tidak melihat cahaya, tapi pada saat bersamaan menyerahkan cahayanya, insyaallah. Salah satunya adalah Pak Hepi. Sejak mengayunkan kakinya yang pertama dari pintu rumah, dia sudah membisikkan doa belas kasihan dan kasih sayang. “Ya Allah, tidak seperti hujjaj yang lain, saya tidak bisa melihat rumah besar Anda dan saya benar-benar ingin melihatnya Saya hanya bisa melihat dengan diam lalu biarkan saya menyentuh dan menyentuh bangunan mulia Anda,” kata Mr. Hepi.

Jadi inilah dia. Diseret oleh ombak pria yang berthawaf dengan Kabah sebagai pusaran. Terguling, didorong oleh kekuatan seorang pria yang digulung. Jatuh, dua kali Pak Hepi tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Tapi saat terbangun, tangannya menyentuh dinding Ka’bah. Subhanallah, dimuliakan Tuhan yang, jika memang menginginkan sesuatu terjadi, maka karena berbagai alasan akan terjadi. Tidak ada yang bisa menghalangi, bahkan jika alasan dan sebab sebagai syarat terjadinya sesuatu tidak cukup terpenuhi dalam ukuran kelemahan manusia ini.

Pak Sukerti, Pak Hepi, termasuk saya adalah satu dari ratusan orang lainnya dari seluruh dunia yang melakukan ziarah atas undangan Rabitha Alam Islami. Salah satu penyebab yang Tuhan buat untuk menyampaikan sesuatu bisa terjadi. Dia, Yang Maha Tinggi, tidak pernah kehilangan akal untuk menciptakan penyebab kejadian. Dia tidak pernah kehabisan cara untuk mewujudkan kejadian dalam kehidupan manusia. Dan Dia, Tuhan Yang Maha Kuasa, mampu menciptakan kausalitas yang tidak pernah dibayangkan manusia.