Tentang Keadilan

By | 14 Agustus 2014

Suatu pagi, saya memberi uang saku kepada saudara laki-laki saya. Saya kebetulan punya dua saudara perempuan. Anak kelas 6 dan kelas 3. Saya memberi mereka sejumlah uang saku yang berbeda. Tentu kakak saya punya banyak uang saku. Mengetahui hal ini, ketika sepulang sekolah adikku memprotes saya.

“Mas, kalau mau donk uang yang adil! Masak uang saku saya dari pada punyane kakak saya?”

Kemudian saya mengajukan pertanyaan kepadanya, “Menurut Anda, apa pendapat Anda?”

Dengan kepolosan kakak laki-laki berusia 9 tahun saya yang baru menjawab, “Ya pasti jumlah donatur yang sama, Mas. Jika kakak saya begitu banyak, saya juga harus sama jumlahnya.”

Sambil tersenyum aku meninggalkannya. Sesaat kemudian aku melihatnya lagi dengan dua gelas, satu liter dan sebotol air. Kedua kacamata itu memiliki ukuran yang berbeda. Yang pertama adalah gelas besar dan yang kedua adalah gelas kecil.

“Ok dik, sekarang saya tanya, mohon setiap gelas yang anda isi dengan air sebanyak 240 mL!”

Dengan sedikit bimbingan dari saya, dia mulai mengisi air ke dalam literatur sampai mencapai 240 mL dan menuangkannya ke dalam gelas besar. Dalam gelas besar, air hampir memenuhi isi gelas. Namun, pada saat dia mengisi segelas kecil tumpahan air.

Lalu aku memintanya untuk mengosongkan gelasnya. Dan sekarang saya memberikan instruksi yang berbeda. “Sekarang isi air ke masing-masing gelas sampai penuh!”

Dia mulai menuang air ke masing-masing gelas hingga penuh. Dan sekarang tidak ada air yang tumpah.

Sahabatku

Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita di atas: Keadilan tidak tergantung pada jumlah tapi ukurannya.

Seringkali kita mengeluh kepada Tuhan. “Wahai Tuhan mengapa dia memiliki lebih banyak harta dari saya? Pada dia memiliki pekerjaan yang sama, ibadah kita sama. Sebenarnya, kadang kala aku lebih baik dari dia.”

Apakah kita menyadari bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui? Dia tahu seukuran setiap hamba-Nya. Dia tidak akan memberikan apapun kepada hambanya kecuali seukuran pelayan.