Postingan

Pelajaran dari Perang Badar

Gambar
Di lembah sunyi bernama Badar, pasir menghampar dan angin gurun berhembus pelan. Di sanalah, pada hari yang agung itu, dua pasukan bertemu: satu kecil dan tampak lemah, satu lagi besar dan angkuh dengan jumlah dan perlengkapannya. Namun Allah menjadikan hari itu bukan sekadar pertempuran, melainkan sebuah “sekolah besar” tempat mukmin belajar tentang iman, takwa, keberanian, dan rahmat Allah. Allah menggambarkan peristiwa itu dalam Al-Qur’an: ﴿قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ﴾ “Sungguh, telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur): segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang mukmin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Ny...

Rihlah Ibnu Bathutah #54 Konstantinopel: Kisah Menakjubkan dari Jantung Kekaisaran Romawi Timur

Gambar
  Perjalanan Menuju Kota di Tepi Laut Pada keesokan hari, kami sampai di sebuah kota besar yang terletak di tepi laut. Aku tidak menyebutkan namanya sekarang, tetapi kota itu memiliki sungai-sungai yang mengalir dan pepohonan yang rimbun. Kami singgah di luar kota. Tidak lama kemudian, datanglah saudara laki-laki sang khātūn, yaitu putra mahkota kerajaan. Ia tiba dengan iring-iringan yang sangat megah: sepuluh ribu prajurit berbaju zirah, tertata rapi dan berwibawa. Di kepalanya terpasang mahkota kerajaan. Di sisi kanannya berdiri sekitar dua puluh putra raja, dan di sisi kirinya jumlah yang sama. Pasukan berkudanya disusun sebagaimana yang dilakukan oleh saudaranya terdahulu, hanya saja kali ini perayaannya lebih besar dan orang-orang yang hadir jauh lebih banyak. Ia bertemu dengan saudara perempuannya, sang khātūn, yang mengenakan pakaian kebesaran seperti sebelumnya. Keduanya turun dari kendaraan. Sebuah kemah sutra pun dipasang, dan sang khātūn masuk ke dalamnya. Aku tidak m...

Tawanan Perang Badar: Nilai Tebusan, Janji Allah, dan Keutamaan Ahli Badar

Gambar
Di padang Badar, debu pertempuran baru saja reda. Mayat-mayat musyrik Quraisy bergelimpangan, sementara di tangan kaum Muslimin ada sekitar tujuh puluh orang tawanan. Inilah saat-saat awal setelah perang besar pertama dalam sejarah Islam, perang yang akan mengubah wajah Arabia dan perjalanan dakwah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Malam itu, para sahabat berkumpul di sekitar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka bermusyawarah: apa yang harus dilakukan dengan para tawanan? Sebagian berpendapat, “Mereka dibunuh saja. Mereka adalah orang-orang yang paling keras memusuhi kita.” Di barisan ini ada ‘Umar bin Al-Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu, yang melihat bahwa menumpas tokoh-tokoh kekafiran akan lebih melemahkan musuh di masa depan. Sebagian lagi, di antaranya Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu ‘anhu, mengusulkan agar mereka diberi tebusan. “Mereka adalah kerabat kita juga,” kata Abū Bakr. “Ambil tebusan dari mereka; harta itu akan menguatkan kaum Muslimin yang masih mis...

Rihlah Ibnu Bathutah #53 : Perjalanan Menuju Konstantinopel

Gambar
Awal Keberangkatan Bersama Khatun Aku memulai perjalanan ini pada tanggal sepuluh Syawal. Saat itu aku turut serta dalam rombongan besar yang mengiringi seorang perempuan agung, Khatun Bīlūn, bangsawan tinggi yang sangat dimuliakan. Sultan sendiri keluar mengantarnya sejauh satu tahap perjalanan, kemudian kembali bersama permaisurinya dan putra mahkota. Para khatun lainnya masih ikut mengiringi hingga etape kedua, lalu mereka pun kembali. Rombongan Besar dan Kemegahan Perjalanan Rombongan ini sungguh besar dan mengagumkan. Amir Bīdra berangkat bersama lima ribu pasukan berkuda. Pasukan khusus milik khatun berjumlah sekitar lima ratus penunggang kuda, terdiri dari mamluk, orang-orang Romawi, dan bangsa Turki. Bersamanya turut pula sekitar dua ratus dayang, kebanyakan dari kalangan Romawi. Ia membawa sekitar empat ratus kereta, hampir dua ribu ekor kuda, ratusan sapi dan unta. Sepuluh pemuda Romawi dan sepuluh pemuda India ikut serta, dipimpin oleh Sunbul al-Hindī dan Mikha’īl ya...

Para Tawanan Perarng Badar

Gambar
Tawanan Badar dan Ketegangan di Madinah Beberapa hari setelah kemenangan besar di Perang Badar, suasana Madinah mulai tenang. Kaum Muslimin baru saja merasakan pertolongan Allah yang luar biasa, sementara di tangan mereka kini ada banyak tawanan dari kaum Quraisy: para pemimpin, bangsawan, dan tokoh-tokoh yang sebelumnya sangat keras memusuhi Islam. Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah: apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan ini? Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu, yang berhati lembut dan penuh kasih sayang, berkata dengan suara tenang: “Wahai Rasulullah, mereka ini adalah kaum dan kerabatmu. Menurutku, ambillah tebusan dari mereka. Harta itu akan menjadi kekuatan bagi kita untuk menghadapi orang-orang kafir. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, sehingga suatu hari mereka justru menjadi penolong kita.” Rasulullah ﷺ kemudian menoleh kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallāhu ‘anhu: “Bagaimana pendapatmu, wahai Ibnul Khaththab?” Umar, yang terke...

Rihlah Ibnu Bathutah #52 Kota Bulgar dan Negeri Kegelapan: Kisah Siang-Malam Singkat hingga Jamuan Sultan

Gambar
Perjalananku ke Kota Bulgar Aku pernah mendengar kisah tentang sebuah kota bernama Bulgar. Orang-orang bercerita bahwa di sana panjang malam dan siang terasa “tidak biasa”: pada satu musim malamnya begitu singkat, dan pada musim kebalikannya siang pun ikut menjadi sangat singkat. Cerita itu membuatku gelisah oleh rasa ingin tahu. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dari perkemahan sultan, jarak menuju Bulgar kira-kira sepuluh hari perjalanan. Aku memohon kepada sultan agar mengizinkanku pergi dan menyediakan pengantar. Ia pun mengutus seorang amir untuk menemaniku sampai tujuan. Aku tiba di Bulgar pada bulan Ramadan. Begitu kami menunaikan salat Magrib, kami berbuka. Namun azan Isya terdengar ketika kami masih makan. Kami pun bergegas salat Isya, lalu menyambungnya dengan Tarawih, kemudian Syaf‘ dan Witir. Belum lama selesai semuanya, fajar sudah muncul. Seakan-akan malam baru saja dimulai, tetapi sudah berakhir. Begitu pula pada musim yang berlawanan, siang di kot...