Postingan

Perang Badar Kubra Bagian 4

Gambar
Wasiat Nabi ﷺ Menjelang Pertempuran Pagi itu, di dataran Badar yang sunyi, dua pasukan sudah saling mendekat. Debu berterbangan di cakrawala, sementara detak jantung para prajurit terdengar dalam diam. Di satu sisi, pasukan Quraisy datang dengan jumlah besar, perlengkapan lengkap, dan kuda-kuda yang gagah. Di sisi lain, kaum muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit, hampir tanpa kuda, berdiri teguh di posisi mereka, menanti perintah Rasulullah ﷺ. Sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah ﷺ berpesan kepada para sahabat dengan strategi yang sangat matang. Beliau bersabda: «لَا تَحْمِلُوا حَتَّى آمُرَكُمْ، وَإِنِ اكْتَنَفَكُمُ الْقَوْمُ فَانْضَحُوهُمْ بِالنَّبْلِ، وَلَا تَسُلُّوا السُّيُوفَ حَتَّى يَغْشُوكُمْ» “Janganlah kalian menyerang hingga aku perintahkan. Jika musuh telah mengepung kalian, hujani mereka dengan panah. Janganlah kalian menghunus pedang hingga mereka menyerbu kalian.” Dengan jumlah yang sedikit dan hampir tanpa kavaleri, kaum muslimin tidak mungkin melakukan serangan t...

Rihlah Ibnu Bathutah #50, Dari Krimea ke Azāq hingga Perkemahan Sultan: Kota Berjalan, Kuda Turki, dan Kemuliaan Tamu

Gambar
Dari Krimea Menuju Azāq: Hari-hari Menyeberangi Air dan Lumpur Aku meninggalkan kota di negeri al-Qرم (Krimea) setelah menempuh delapan belas etape perjalanan. Di hadapanku terbentang rintangan yang melelahkan: hamparan air luas yang harus kami seberangi seharian penuh. Air itu tampak “biasa” dari jauh, tetapi ketika rombongan hewan tunggangan dan kereta terus-menerus melintas, dasarnya berubah menjadi lumpur berat. Semakin banyak yang lewat, semakin pekat beceknya, dan semakin sulit kaki-kaki hewan melangkah. Melihat keadaan itu, amir yang memimpin perjalanan—Amir Taktamūr—mendatangiku. Ia menempatkanku di depan, dekat dirinya, bersama beberapa pelayan. Lalu ia menuliskan sebuah surat untukku kepada Amir Azāq: isinya menjelaskan bahwa aku hendak menghadap raja, serta memintanya agar memuliakanku. Surat itu seperti jembatan kehormatan; aku merasa perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga berpindah dari satu lingkaran kekuasaan ke lingkaran lainnya. Kami terus berjalan ...

Perang Badar Kubra Bagian 3

Gambar
Musyawarat-Musyawarat Bijak di Medan Badar Angin gurun berhembus pelan ketika pasukan kecil kaum Muslimin berhenti di sebuah lembah yang kelak dikenal dengan nama Badar. Mereka datang dari Madinah, lelah oleh perjalanan jauh, sementara di hadapan mereka, tanpa mereka lihat, pasukan besar Quraisy sedang berjalan mendekat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan pasukan berhenti di suatu titik. Di sanalah mereka menurunkan barang-barang, menyiapkan tenda-tenda sederhana, dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Di tengah kesibukan itu, datanglah seorang sahabat yang dikenal sangat cerdas dalam urusan perang, Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Khazraji. Ia mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan penuh adab dan bertanya dengan hati-hati. “Wahai Rasulullah,” ujarnya, “bagaimana pendapat Anda tentang tempat singgah ini? Apakah ini tempat yang Allah tunjukkan kepada Anda, sehingga kita tidak boleh maju atau mundur darinya? Ataukah ini hanyalah pendapat,...

Rihlah Ibnu Bathutah #49 di Kaffa & Krimea: Kisah Muslim di Negeri Nasrani

Gambar
Perjumpaan di Negeri Asing: Catatan dari Kaffa dan Al-Qiram Keesokan hari setelah kapal kami berlabuh, beberapa saudagar dari rombongan kami pergi menemui suku Qifjaq yang tinggal di gurun. Mereka adalah penganut Nasrani. Kami menyewa sebuah kereta kuda dari mereka, lalu melintasi padang menuju kota Kaffa. Kota itu besar, memanjang di tepian laut. Penduduknya kebanyakan Nasrani dari Genoa, dipimpin oleh seorang bernama Al-Dandir. Kami turun dan bermalam di sebuah masjid milik kaum Muslimin. Lonceng dan Azan Belum lama kami beristirahat, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng bergema dari segala penjuru. Aku belum pernah mendengarnya seumur hidup! Hatiku menjadi gelisah. Segera kusuruh para sahabatku naik ke menara masjid, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan mengumandangkan azan. Mereka pun melakukannya. Tidak lama kemudian, seorang lelaki berbaju zirah dan bersenjata lengkap masuk. Ia mengucapkan salam. “Siapa engkau?” tanyaku. “Aku adalah hakim Muslim di kota ini,” jawabnya. “Tadi kudeng...

Perang Badar Kubra Bagian 2

Gambar
Perjalanan Kaum Muslimin Menuju Badar  Adapun Nabi ﷺ, beliau berangkat bersama para sahabatnya menempuh perjalanan menuju Badar. Pada saat itu masih tersebar luas di kalangan kaum Muslimin kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan akan melewati jalur tersebut dalam perjalanannya menuju Makkah. Rasulullah ﷺ belum mengetahui bahwa Abu Sufyan telah berhasil menyelamatkan kafilah itu, dan juga belum mengetahui apa yang telah dilakukan oleh kaum Quraisy, Kaum Quraisy telah mengerahkan pasukannya dan bergerak menuju Badar hingga mereka sampai di sebuah lembah yang disebut Dzufrān (1) atau Ar-Rauḥā’. Di tempat itulah Rasulullah ﷺ memperoleh kabar tentang kaum Quraisy dan pergerakan mereka dalam jumlah pasukan besar untuk mencegah dan melindungi kafilah dagang tersebut. Pada saat itulah keadaan berubah. Urusan tidak lagi terbatas pada mengejar kafilah dan merebutnya. Kini kaum Quraisy telah keluar dengan kekuatan besar, sehingga peluang terjadinya peperangan dan pertempuran terbuka menjadi leb...

Rihlah Ibnu Bathutah #48 Kastamonu dan Sanub: Sultan Sulaiman Badisyah, Zawiyah, Hasyisy, hingga Badai Laut

Gambar
Berita tentang Sultan Kastamonu Aku masih mengingat jelas hari ketika kabar tentang Sultan Kastamonu sampai kepadaku, lalu aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia adalah Sultan yang dimuliakan, Sulaiman Badisyah. Usianya sudah sangat lanjut, melewati tujuh puluh tahun, tetapi wajahnya tetap tampan. Jenggotnya panjang, dan dari cara duduknya saja orang bisa merasakan wibawa yang berat, seolah-olah ketenangan dan ketegasan berkumpul dalam satu sosok. Di majelisnya, para ahli fikih dan orang-orang saleh biasa duduk dekat dengannya. Ketika aku menghadap, dia mempersilakanku duduk di sampingnya, sangat dekat. Lalu ia bertanya tentang keadaanku, tentang asal negeriku, dan tentang dua tanah suci, Makkah dan Madinah. Ia bertanya pula tentang Mesir dan Syam. Aku menjawab semua pertanyaannya sebaik yang aku mampu, dan ia mendengarkan dengan perhatian yang membuatku merasa dihormati, seakan aku bukan musafir biasa. Hari itu juga, ia memerintahkan agar aku ditempatkan di pengi...

Perang Badar Kubra Bagian 1

Gambar
Masa Penantian dan Pengintaian Rasulullah ﷺ bersama kaum mukminin tetap berada di Madinah, menantikan kedatangan kafilah dagang besar milik Quraisy yang berhasil lolos bersama Abu Sufyan. Kafilah itu terdiri dari seribu ekor unta yang membawa sebagian besar harta Quraisy. Kafilah inilah yang dahulu hendak dihadang Rasulullah ﷺ dalam Perang ‘Asyirah yang telah disebutkan sebelumnya. Rasulullah ﷺ mengutus dua orang sahabatnya, yaitu Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa‘id bin Zaid, ke daerah Al-Haurā’ di pesisir Laut Merah. Tempat itu merupakan salah satu persinggahan kafilah dagang yang melintas antara Hijaz dan Syam, dan pasti kafilah tersebut akan melewatinya. Kedua utusan itu berhasil menjalin hubungan baik dengan Bani Juhainah, lalu menetap di sana untuk mengumpulkan berita, hingga mereka yakin akan waktu keberangkatan kafilah dari Syam. Setelah itu, mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan kabar tersebut. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menunggu kepulangan kedua utusan...