Postingan

Detik-Detik Duka: Wafatnya Rasulullah dan Lahirnya Kepemimpinan Abu Bakar

Gambar
Huru-hara di Madinah: Berita yang Mencengangkan Berita wafatnya Rasulullah ﷺ menyebar cepat ke seluruh penjuru Madinah. Seketika itu juga, tangisan dan ratapan bergema bagaikan suara talbiyah para jamaah haji yang menggema. Kabar ini begitu mengguncang hati  Umar bin al-Khaththab . Ia berdiri dengan penuh amarah, mengancam dan memperingatkan siapa pun yang berani mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Umar berseru dengan lantang:  “Demi Allah, beliau tidak mati! Beliau pergi menghadap Tuhannya sebagaimana Musa bin Imran pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali kepada mereka. Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali sebagaimana Musa kembali. Sungguh akan kupotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah mati!” Suasana mencekam. Orang-orang kebingungan. Ada yang terpaku, ada yang menangis histeris. Hingga kemudian muncullah sosok penenang dari kejauhan. Abu Bakar: Ketegangan Berubah Menjadi Kesadaran Abu Bakar ash-...

Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih: Dari Ranjang Sakit Menuju Ar-Rafiq Al-A'la

Gambar
Perintah Salat: Abu Bakar Menjadi Imam Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin parah, beliau bersabda: “ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ ”   “Suruhlah Abu Bakar agar salat mengimami manusia.” Aisyah —yang sangat mencintai ayahnya dan khawatir orang akan sial karena melihat Abu Bakar menggantikan posisi Rasulullah—berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang lembut hatinya (mudah menangis). Jika ia berdiri di tempatmu, ia tidak akan mampu salat mengimami manusia.” Rasulullah ﷺ mengulangi perintahnya, dan Aisyah mengulangi alasannya. Maka beliau bersabda: “ إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ ”   “Sungguh kalian seperti wanita-wanita (penggoda) Yusuf. Suruhlah Abu Bakar agar salat mengimami manusia.” Seorang sahabat keluar untuk menyampaikan perintah itu, tetapi tidak menemukan Abu Bakar. Ia menemukan Umar dan berkata: “Berdirilah wahai Umar, salatlah mengimami manusia.” Ketika Umar bertakbir, Rasulullah ﷺ mendenga...

Tahun Kesebelas Hijriah: Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih

Gambar
Pendahuluan: Tahun yang Penuh Makna Tahun ke-11 Hijriah diawali dengan keadaan Rasulullah ﷺ berada di Madinah, setelah kembali dari Haji Wada' dengan penuh kemuliaan, hati yang tenteram, dan dada yang lapang. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan Allah telah menyempurnakan agama serta menyempurnakan nikmat. Islam tampak unggul atas semua agama. Namun Rasulullah ﷺ tidak melupakan apa yang dilakukan Romawi kepada kaum Muslimin dalam Perang Mu'tah—terbunuhnya para pahlawan Zaid, Ja'far, Ibnu Rawahah, dan lainnya—serta niat mereka menyerang Madinah hingga terjadilah Perang Tabuk. Karena itu, beliau bertekad mengirim pasukan untuk membalas. Maka muncullah pengiriman pasukan  Usamah bin Zaid . Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid Di akhir bulan Safar tahun ini, Rasulullah ﷺ menyerukan kepada kaum Muslimin untuk berperang melawan Romawi. Tiga ribu pasukan dari kalangan terbaik Muslimin—termasuk para pemuka Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, ...

Duka dan Fitnah di Akhir Kenabian: Wafatnya Ibrāhīm & Kemunculan Dua Pendusta

Gambar
Ibrāhīm bin Muhammad: Buah Hati yang Dirindukan Di bulan Rabi’ul Awal tahun ke-10 Hijriah (ada pula yang mengatakan Ramadhan atau Dzulhijjah), sebuah kabar duka menyelimuti rumah tangga kecil Rasulullah ﷺ .  Ibrāhīm , putra beliau dari  Māriyah al-Qibtiyyah , menghembuskan napas terakhir. Usianya baru  enam belas bulan  (ada yang mengatakan lebih). Dulu, kelahirannya disambut dengan suka cita yang begitu besar. Kini, kepergiannya meninggalkan luka yang dalam. Rasulullah ﷺ , sebagai seorang ayah dengan fitrah kemanusiaan yang sempurna, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ketika Ibrāhīm sedang sakaratul maut, beliau mendekatinya. Air mata berlinang dari kedua mata beliau. Melihat itu,  Abdurrahman bin ‘Auf  bertanya dengan penuh hormat namun heran: “Apakah engkau pun menangis, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan lembut: “ يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ ” Artinya: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (kasih sayang).” Kemu...

Haji Wada' (2)

Gambar
Haji Wada’: Dari Muzdalifah hingga Kembali ke Madinah Setelah matahari terbenam di Arafah, Rasulullah ﷺ memulai rangkaian ibadah berikutnya dengan penuh ketenangan dan keteladanan. Ke Muzdalifah: Malam yang Penuh Doa Rasulullah ﷺ menaiki untanya setelah matahari terbenam. Beliau mengencangkan tali kendali hingga kepala unta hampir menyentuh pelana. Di belakangnya, beliau membonceng  Usamah bin Zaid . Sepanjang perjalanan, beliau memberi isyarat kepada manusia seraya bersabda: “ السَّكِينَةَ، السَّكِينَةَ، لَيْسَ الْبِرُّ بِالْإِيضَاعِ ” Artinya: “Tenanglah, tenanglah. Bukanlah kebaikan itu dengan berjalan cepat (tergesa-gesa).” Beliau terus berjalan hingga tiba di  Muzdalifah . Di sana, beliau melaksanakan salat Magrib dan Isya dengan digabung (jama’ takhir) menggunakan satu azan dan dua iqamah, tanpa salat sunat di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga salat Subuh. Setelah salat Subuh, beliau menaiki untanya menuju  Al-Masy’ar al-Haram ...