Postingan

Dendam Quraisy dan Persiapan Menuju Uhud

Gambar
Kekalahan pahit di Badar masih membara di hati kaum Quraisy Mekah. Kehilangan para pemimpin dan tokoh terhormat mereka membuat api dendam menyala-nyala. Untuk membalas kekalahan itu dan melawan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memutuskan untuk mengerahkan segala sumber daya. Keuntungan perdagangan besar dari kafilah dagang yang hampir menjadi rampasan perang di Badar, senilai lima puluh ribu dinar, mereka kumpulkan di Darun Nadwah sebagai dana perang. Beberapa pimpinan Quraisy mendatangi Abu Sufyan bin Harb. “Muhammad telah mendatangkan malapetaka bagi kita,” kata mereka. “Dia membunuh orang-orang terbaik kita. Kami rela mengorbankan seluruh keuntungan harta ini untuk mempersiapkan perang melawan Muhammad dan pengikutnya.” Semua pemilik saham dalam harta itu pun menyetujui keputusan tersebut. Mereka lalu dengan gigih mengumpulkan pasukan. Sekutu-sekutu mereka dari kalangan Al-Ahabisy dan berbagai kabilah di sekitar Mekah, seperti Kinanah dan penduduk Tihamah, mer...

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

Gambar
Empat Puluh Hari Menyebrangi Padang Pasir Ketika aku berada di As-Sarā, aku berniat untuk bepergian menuju Khawarizmi. Niat itu sudah bulat di dalam hatiku. Namun sang syaikh yang mulia, yang sebelumnya memuliakan dan menjagaku, melarangku. Ia berkata dengan lembut namun tegas, “Tinggallah beberapa hari, barulah kemudian engkau bepergian.” Hatiku gelisah. Jiwaku cenderung ingin segera berangkat. Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah kafilah besar yang sedang bersiap-siap pergi. Di antara mereka ada para pedagang yang sudah kukenal. Aku pun sepakat untuk berangkat bersama mereka. Aku mendatangi sang syaikh dan memberitahukan niatku. Ia kembali berkata, “Engkau harus tinggal.” Namun aku sudah bertekad untuk pergi. Melihat ketegasan niatku, ia berkata, “Tunggulah budakku yang kabur itu; tinggallah karenanya.” Ucapan itu tampak biasa, tetapi kemudian terbukti sebagai salah satu karomah yang nyata. Karomah Budak yang Kembali Tiga hari setelah itu, salah seorang sahabatku mene...

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Gambar
Masa Baru, Musuh Baru Tahun ketiga setelah hijrah ke Madinah adalah tahun yang berbeda bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin. Pada tahun-tahun sebelumnya, musuh utama mereka adalah Quraisy di Mekah dan beberapa kabilah yang berdekatan. Namun kini, medan dan bentuk permusuhan mulai berubah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalin perjanjian dengan banyak suku yang tinggal di sebelah barat Madinah, mulai dari sekitar kota hingga ke pesisir pantai. Dengan perjanjian itu, jalur perdagangan utama Quraisy dari Mekah ke Syam menjadi hampir terputus. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi mereka; tanpa perdagangan, hidup mereka terancam. Quraisy pun mencari jalan lain. Mereka memikirkan jalur gurun yang memutar: dari Mekah menuju wilayah Nejd, lalu naik ke arah Irak dan Syam. Di jalur ini, ada dua suku besar yang sangat penting: Bani Sulaim dan Ghathafan. Keduanya adalah sekutu Quraisy dan diharapkan dapat menjaga keamanan kafilah dagang mereka. Qura...

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Gambar
Di Pasar Buku Kerajaan Romawi Setelah aku berpisah dari raja pertapa yang telah kuceritakan sebelumnya, aku berjalan menyusuri kota dan memasuki pasar bukunya. Di sana berjajar para penjual kitab, para penyalin, dan pelajar. Suasana pasar itu tenang namun hidup, penuh dengan lembaran-lembaran ilmu. Di tengah keramaian itu, Hakim kota melihatku. Ia duduk di sebuah kubah yang tinggi, tempat ia mengurus berbagai urusan. Ia tidak memanggilku langsung, melainkan mengutus salah seorang pembantunya untuk menanyai siapa diriku. Pembantu itu mendatangi orang Romawi yang menyertaiku dan bertanya tentangku. Kawanku itu menjawab bahwa aku adalah seorang penuntut ilmu Muslim yang datang dari negeri-negeri jauh. Ketika kabar itu sampai kepada sang hakim, ia mengutus salah seorang pembantunya yang lain, yang mereka panggil hakim Najasyi Kafali, kepadaku. Najasyi Kafali mendatangiku dan berkata lembut, “Hakim memanggilmu.” Aku pun mengikutinya. Kami naik ke kubah yang telah kusebutkan. Di sana...

Peristiwa di Tahun Kedua Hijriah : Pernikahan Ali dan Fathimah, Wafatnya Ruqayyah dan Utsman bin Mazh'un, serta para syuhada Badar

Gambar
Pada tahun kedua Hijriah, Madinah menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang penuh haru: ada kebahagiaan, ada juga kesedihan yang mendalam. Di tahun inilah rumah tangga mulia antara Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai. Di tahun yang sama pula, beberapa sahabat utama wafat dan syahid, meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah Islam. ________________________________________ Pernikahan Ali dan Fathimah Abul Hasan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, adalah sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia dibesarkan di rumah beliau, hidup dalam kesederhanaan, iman, dan kecintaan yang tulus. Di tahun kedua Hijriah, setelah Perang Badar, datanglah saat yang sangat agung dalam hidupnya: pernikahannya dengan putri Rasulullah, Fathimah radhiyallahu ‘anha. Menurut sebagian ulama sirah, seperti Al-Bukhari, pernikahan itu berlangsung tidak lama setelah Perang Badar. Sementara Al-Waqidi berpendapat bahwa Ali mulai serum...

Rihlah Ibnu Bathutah #55 : Biara dan Raja Rahib di Konstantinopel

Gambar
Manastar-Manastar di Kota Konstantinopel Di kota Konstantinopel, yang kini dikenal sebagai Istanbul, aku mendapati sebuah dunia yang penuh dengan biara dan tempat-tempat ibadah Nasrani. Mereka menyebut biara itu  manastar , sebuah kata yang bunyinya hampir mirip dengan  maristan , hanya saja letak huruf-hurufnya berbeda. Bagi mereka, manastar kurang lebih seperti zawiyah di kalangan kaum Muslim, yakni tempat orang mengasingkan diri untuk beribadah dan berzikir. Di kota ini, manastar begitu banyak jumlahnya. Salah satunya adalah manastar yang dibangun oleh Raja Jirjis, ayah Raja Konstantinopel saat itu. Biara ini terletak di luar kota Istanbul, menghadap ke kawasan Galata, di tepi pantai. Nanti, aku akan menceritakan pertemuanku dengan raja yang telah bertapa ini. Di dekat gereja agung kota itu—gereja terbesar dan paling dimuliakan—terdapat beberapa manastar lain. Di luar gereja, di sebelah kanan pintu masuk, ada dua manastar yang berdiri di dalam sebuah kebun yang indah. Sebua...

Pelajaran dari Perang Badar

Gambar
Di lembah sunyi bernama Badar, pasir menghampar dan angin gurun berhembus pelan. Di sanalah, pada hari yang agung itu, dua pasukan bertemu: satu kecil dan tampak lemah, satu lagi besar dan angkuh dengan jumlah dan perlengkapannya. Namun Allah menjadikan hari itu bukan sekadar pertempuran, melainkan sebuah “sekolah besar” tempat mukmin belajar tentang iman, takwa, keberanian, dan rahmat Allah. Allah menggambarkan peristiwa itu dalam Al-Qur’an: ﴿قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ﴾ “Sungguh, telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur): segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang mukmin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Ny...