Postingan

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya

Gambar
Undangan Penduduk Irak Kepada Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhum, dan Terbunuhnya Beliau Ketika Al-Hasan wafat, Al-Husain selalu datang menemui Muawiyah setiap tahun. Muawiyah pun selalu memberi beliau hadiah dan memuliakannya. Beliau juga termasuk bagian dari pasukan yang memerangi Konstantinopel bersama Yazid bin Muawiyah pada tahun 51 Hijriah. Ketika sumpah setia (baiat) diambil untuk Yazid di masa hidup Muawiyah, Al-Husain termasuk salah satu orang yang menolak untuk membaiatnya. Begitu Muawiyah wafat pada tahun 60 Hijriah dan pembaiatan Yazid diresmikan, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pun menyatakan baiat mereka. Namun, Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair tetap teguh untuk menolak. Keduanya keluar dari Madinah, mengamankan diri ke Makkah, dan menetap di sana. Orang-orang pun berdatangan dan berkumpul di sekitar Al-Husain untuk menemui beliau. Setelah itu, banyak sekali surat-surat dari wilayah Irak yang berdatangan kepada beliau, mengundang beliau untuk datang ke tem...

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan (60 - 64 H) : Biografi dan Kekhalifahannya

Gambar
Nasab dan Keluarganya Dia adalah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan Sakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams, Abu Khalid Al-Umawi. Ibunya bernama Maysun binti Bahdal Al-Kalbi. Ayahnya telah menceraikan ibunya saat ibunya sedang mengandung dirinya. Ia lahir pada tahun 25 Hijriah. Ia meriwayatkan dari ayahnya, Muawiyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ » "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama." Ia juga meriwayatkan hadis lain tentang wudu. Orang-orang yang meriwayatkan hadis darinya adalah putranya sendiri yaitu Khalid, serta Abdul Malik bin Marwan. Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi memasukkannya ke dalam kelompok tingkatan (generasi) yang mengiringi para sahabat (tabi'in), dan ia berkata: "Ia memiliki beberapa riwayat hadis." Yazid memiliki beberapa orang anak, di antaranya: Muawiyah bin Yazid , bergelar Abu Laila, dialah yang memegang...

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Aktivitas Penaklukan, Pemerintahan Wilayah, dan Haji

Gambar
Aktivitas Penaklukan (Al-Futuhat) Penaklukan Kaisarea (Qaisariyah) Al-Laits bin Sa'd mengatakan: Muawiyah berhasil menaklukkan wilayah Kaisarea pada tahun 19 Hijriah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khattab. Penaklukan Siprus (Qubrus) Pada masa jabatannya sebagai Gubernur Syam, ia berhasil menaklukkan Pulau Siprus pada tahun 27 Hijriah. Kaum muslimin kemudian menetap di sana selama hampir enam puluh tahun, baik pada zaman hidupnya maupun setelah masa wafatnya. Aktivitas penaklukan dan jihad terus tegak berdiri di negeri Romawi, Franka ( Al-Firinj ), serta wilayah lainnya. Akan tetapi, ketika terjadi perselisihan antara dirinya dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, sama sekali tidak terjadi aktivitas penaklukan baru pada hari-hari tersebut, baik di bawah komandonya maupun di bawah komando Ali. Raja Romawi pun mulai berambisi untuk menyerang Muawiyah, padahal sebelumnya Muawiyah telah berhasil memukul mundur, menghinakan, mengalahkan, serta mengusir pasukan...

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Gambar
Masa Jabatan sebagai Gubernur Syam Ketika wilayah Syam berhasil ditaklukan, Umar bin Al-Khattab mengangkat Muawiyah sebagai gubernur (wakil) wilayah Damaskus menggantikan saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan. Kemudian, Utsman bin Affan menetapkan kembali posisinya atas wilayah tersebut dan menambahkan wilayah-wilayah lain ke dalam kekuasaannya. Dialah orang yang membangun Istana Al-Qubbah Al-Khadhra’ (Kubah Hijau) di Damaskus, dan mendiaminya selama empat puluh tahun. Hal ini dinyatakan oleh Al-Hafiz ibnu Asakir. Ketika Umar bin Al-Khattab mengangkatnya sebagai gubernur Syam setelah wafat saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan, ayah Muawiyah (Abu Sufyan) berkata kepadanya: "Wahai anakku, sesungguhnya kelompok orang dari kaum Muhajirin ini telah mendahului kita (masuk Islam) sedangkan kita terlambat. Ketertinggalan mereka telah mengangkat derajat mereka, sedangkan keterlambatan kita telah menahan posisi kita. Maka mereka pun menjadi para pemimpin dan pemuka, sedangkan kita menjadi par...