Postingan

Perang Uhud: Kegagalan Pasukan Pemanah, Syahidnya Hamzah, dan Awal Kekalahan Muslimin

Gambar
  Pertarungan Satu Lawan Satu Pertempuran Uhud dimulai dengan tradisi yang sudah mengakar di Jazirah Arab: duel satu lawan satu. Talhah bin Abu Thalhah al-Abdari, pembawa bendera musyrikin, maju ke depan barisan. Ia menantang siapa pun dari barisan Muslimin untuk melawannya. Para sahabat terdiam sejenak. Maka majulah Az-Zubair bin Al-Awwam. Dengan sekali loncatan, Az-Zubair sudah berada di atas unta bersama Talhah. Ia membanting lawannya ke tanah, lalu menghunus pedang. Talhah bin Abu Thalhah tewas di tempat. Melihat keberanian itu, Rasulullah ﷺ bersabda: « إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْرُ » "Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pembela setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair." Nabi ﷺ kemudian menambahkan: « لَوْ لَمْ يَبْرُزْ إِلَيْهِ أَحَدٌ لَبَرَزْتُ أَنَا إِلَيْهِ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ إِحْجَامِ النَّاسِ عَنْهُ » "Seandainya tidak ada seorang pun yang maju kepadanya, sungguh aku sendiri yang akan maju. Karena kulihat bet...

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Gambar
Reruntuhan yang Bercerita Aku berdiri di tengah Bukhara, kota yang pernah menjadi mercu ilmu dunia. Kini, yang tersisa hanyalah bisu reruntuhan dan luka yang mengering. Di sekelilingku, masjid-masjid agung hanya menyisakan dinding retak, madrasah-madrasah megah berubah menjadi sarang laba-laba, dan pasar-pasar ramai kini sunyi sepi. Penduduknya hidup dalam kehinaan, bahkan kesaksian mereka tak lagi diterima di negeri-negeri lain. Ah, Bukhara... kota Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ahli hadits teragung sepanjang masa. Kini engkau jatuh begitu dalam. Dan aku pun bertanya-tanya: bagaimana bisa negemilau ini sirna dalam telapak tangan sang perusak? Maka kumulai kisah ini—bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga pengingat akan kejayaan yang pernah tumbuh, dan malapetaka yang meratakannya dengan tanah. Kisah Sang Penguasa Step*a: Awal Mula Bencana Konon, sebelum menjadi badai yang menghancurkan separuh dunia,  Tengiz Khan  hanyalah seorang tuka...

Arab Ba'idah (Bangsa Arab yang Punah)

Gambar
Kaum ‘Arab yang Punah dan Kisah Kaum ‘Ād Dalam tradisi para ahli sejarah Arab klasik, bangsa Arab sering dibagi menjadi tiga lapisan:  Arab bā’idah  (Arab yang punah),  Arab ‘āribah  (Arab asli), dan  Arab musta‘ribah  (Arab yang menjadi Arab). Mengikuti pembagian itu, pembahasan biasanya dimulai dari lapisan pertama:  Arab bā’idah , yakni suku-suku tua yang diyakini pernah hidup, lalu lenyap dari panggung sejarah. Dari “Bangsa Legenda” ke Temuan Nyata Untuk waktu yang lama, banyak orientalis (sarjana Barat) meragukan keberadaan nyata sebagian besar suku yang digolongkan sebagai Arab bā’idah. Mereka menganggap nama-nama seperti ‘Ād dan Ṯamūd hanyalah hasil imajinasi para perawi Arab, apalagi ketika tidak menemukan padanan nama yang mirip dalam bahasa-bahasa kuno atau literatur klasik Yunani–Latin. Namun penilaian ini kemudian terbukti tergesa-gesa. Seiring berkembangnya kajian arkeologi dan epigrafi (ilmu prasasti), para peneliti berhasil menem...

Persiapan Perang Uhud: Strategi Pasukan Pemanah, Pedang Abu Dujanah, dan Semangat Pemuda Islam

Gambar
Inspeksi Pasukan dan Semangat Pemuda Di tengah perjalanan menuju Uhud, Rasulullah ﷺ menghentikan barisan. Beliau menginspeksi pasukan satu per satu. Saat itulah tampak beberapa wajah muda yang masih belia, bersembunyi di antara para prajurit dewasa. Mereka adalah anak-anak yang belum cukup umur, namun hati mereka berkobar-kobar ingin turut serta berjihad. Cinta syahid telah merasuk ke dalam jiwa mereka. Maka dengan penuh kasih sayang, Nabi ﷺ memulangkan mereka. Di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Al-Barra' bin Azib, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit, dan 'Urabah bin Aus. Namun hati mereka tetap di medan perang. Kelak, di Perang Khandaq, Nabi mengizinkan mereka bergabung. Kisah Samurah bin Jundub dan Rafi' bin Khadij menarik untuk dicermat. Keduanya sama-sama berusia lima belas tahun dan ditolak Nabi. Lalu seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, Rafi' adalah seorang pemanah ulung." Maka beliau pun mengizinkannya. Mendengar itu, dikatakan pula, "Sam...

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Gambar
Keistimewaan Buat-Buahan Khawarizmi Semangka Khawarizmi benar-benar tak tertandingi di seluruh dunia, baik di Timur maupun di Barat. Hanya semangka Bukhara yang bisa menyainginya, lalu disusul semangka Isfahan. Kulitnya hijau, isinya merah, manisnya sungguh terasa, dan dagingnya padat. Salah satu keajaibannya adalah ia bisa diiris tipis dan dikeringkan di bawah matahari, lalu disimpan dalam peti, seperti cara kita mengawetkan daging asap atau buah tin Malaga di negeri kami. Semangka kering ini dibawa dari Khawarizmi hingga ke ujung negeri India dan Cina. Di antara semua buah kering, tak ada yang lebih lezat darinya. Selama tinggal di Delhi, India, setiap kali ada musafir yang datang, aku selalu menyuruh seseorang membelikan semangka kering untukku. Bahkan, Raja India jika mendapat kiriman buah ini, selalu mengirimkannya kepadaku karena ia tahu betapa aku menyukainya. Memang sudah menjadi kebiasaan sang raja untuk menjamu orang asing dengan buah-buahan khas negeri mereka dan memperhat...

Thabaqat (Lapisan) Bangsa Arab Menurut Sejarah Pra‑Islam

Gambar
Para perawi dan ahli sejarah Arab kuno hampir sepakat bahwa bangsa Arab dapat dibagi ke dalam beberapa lapisan (ṭabaqāt). Pembagian ini dilihat dari dua sisi: usia keberadaan mereka dalam sejarah, dan garis keturunan (nasab). 1. Pembagian Arab Berdasarkan Keaslian dan Usia Sejarah Para perawi (ruwāt) dan ahli berita (ahl al-akhbār) hampir sepakat membagi bangsa Arab, dari sisi “ke-tua-an” atau lamanya mereka dikenal dalam sejarah, ke dalam beberapa kelompok utama. Mereka menyebut adanya: Arab bā’idah: bangsa Arab yang telah punah, lenyap dari panggung sejarah, dan hanya tersisa dalam ingatan dan cerita. Arab ‘āribah: Arab asli, yang dianggap murni kearabannya. Arab musta‘ribah: kelompok yang pada asalnya bukan Arab, lalu menjadi Arab (terarabkan) karena pergaulan, pernikahan, dan tinggal di lingkungan Arab. Dalam sebagian riwayat, istilahnya sedikit berbeda, misalnya: Arab ‘āribah, Arab muta‘ribah, dan Arab musta‘ribah; atau Arab ‘āribah dan ...