Postingan

Tahun Kesebelas Hijriah: Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih

Gambar
Pendahuluan: Tahun yang Penuh Makna Tahun ke-11 Hijriah diawali dengan keadaan Rasulullah ﷺ berada di Madinah, setelah kembali dari Haji Wada' dengan penuh kemuliaan, hati yang tenteram, dan dada yang lapang. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan Allah telah menyempurnakan agama serta menyempurnakan nikmat. Islam tampak unggul atas semua agama. Namun Rasulullah ﷺ tidak melupakan apa yang dilakukan Romawi kepada kaum Muslimin dalam Perang Mu'tah—terbunuhnya para pahlawan Zaid, Ja'far, Ibnu Rawahah, dan lainnya—serta niat mereka menyerang Madinah hingga terjadilah Perang Tabuk. Karena itu, beliau bertekad mengirim pasukan untuk membalas. Maka muncullah pengiriman pasukan  Usamah bin Zaid . Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid Di akhir bulan Safar tahun ini, Rasulullah ﷺ menyerukan kepada kaum Muslimin untuk berperang melawan Romawi. Tiga ribu pasukan dari kalangan terbaik Muslimin—termasuk para pemuka Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, ...

Duka dan Fitnah di Akhir Kenabian: Wafatnya Ibrāhīm & Kemunculan Dua Pendusta

Gambar
Ibrāhīm bin Muhammad: Buah Hati yang Dirindukan Di bulan Rabi’ul Awal tahun ke-10 Hijriah (ada pula yang mengatakan Ramadhan atau Dzulhijjah), sebuah kabar duka menyelimuti rumah tangga kecil Rasulullah ﷺ .  Ibrāhīm , putra beliau dari  Māriyah al-Qibtiyyah , menghembuskan napas terakhir. Usianya baru  enam belas bulan  (ada yang mengatakan lebih). Dulu, kelahirannya disambut dengan suka cita yang begitu besar. Kini, kepergiannya meninggalkan luka yang dalam. Rasulullah ﷺ , sebagai seorang ayah dengan fitrah kemanusiaan yang sempurna, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ketika Ibrāhīm sedang sakaratul maut, beliau mendekatinya. Air mata berlinang dari kedua mata beliau. Melihat itu,  Abdurrahman bin ‘Auf  bertanya dengan penuh hormat namun heran: “Apakah engkau pun menangis, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan lembut: “ يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ ” Artinya: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (kasih sayang).” Kemu...

Haji Wada' (2)

Gambar
Haji Wada’: Dari Muzdalifah hingga Kembali ke Madinah Setelah matahari terbenam di Arafah, Rasulullah ﷺ memulai rangkaian ibadah berikutnya dengan penuh ketenangan dan keteladanan. Ke Muzdalifah: Malam yang Penuh Doa Rasulullah ﷺ menaiki untanya setelah matahari terbenam. Beliau mengencangkan tali kendali hingga kepala unta hampir menyentuh pelana. Di belakangnya, beliau membonceng  Usamah bin Zaid . Sepanjang perjalanan, beliau memberi isyarat kepada manusia seraya bersabda: “ السَّكِينَةَ، السَّكِينَةَ، لَيْسَ الْبِرُّ بِالْإِيضَاعِ ” Artinya: “Tenanglah, tenanglah. Bukanlah kebaikan itu dengan berjalan cepat (tergesa-gesa).” Beliau terus berjalan hingga tiba di  Muzdalifah . Di sana, beliau melaksanakan salat Magrib dan Isya dengan digabung (jama’ takhir) menggunakan satu azan dan dua iqamah, tanpa salat sunat di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga salat Subuh. Setelah salat Subuh, beliau menaiki untanya menuju  Al-Masy’ar al-Haram ...

Haji Wada’ (1)

Gambar
Ketika Jazirah Telah Bersatu dalam Tauhid Setelah kemenangan demi kemenangan, satu per satu suku di Jazirah Arab datang berbondong-bondong menyatakan keislaman. Kini, tidak ada lagi yang menyekutukan Allah. Rukun Islam telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ , baik dengan perkataan maupun perbuatan. Hanya satu rukun yang belum beliau praktikkan secara sempurna di hadapan umat:  ibadah haji . Pada tahun ke-9 Hijriah,  Abu Bakar ash-Shiddiq  telah memimpin jamaah haji untuk mengajarkan manasik. Namun setahun kemudian, tiba saatnya Rasulullah ﷺ sendiri yang akan memandu umat, membersihkan haji dari segala bid’ah yang tersisa, dan mengembalikannya kepada tuntunan Nabi Ibrahim as. Beliau bersabda: “ كُونُوا عَلَى مَشَاعِرِكُمْ، فَإِنَّكُمْ عَلَى إِرْثٍ مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ” “Tetaplah kalian di tempat-tempat ibadah haji kalian, karena sesungguhnya kalian berada di atas warisan dari warisan bapak kalian, Ibrahim.”  (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, I...