Postingan

Thabaqat (Lapisan) Bangsa Arab Menurut Sejarah Pra‑Islam

Gambar
Para perawi dan ahli sejarah Arab kuno hampir sepakat bahwa bangsa Arab dapat dibagi ke dalam beberapa lapisan (ṭabaqāt). Pembagian ini dilihat dari dua sisi: usia keberadaan mereka dalam sejarah, dan garis keturunan (nasab). 1. Pembagian Arab Berdasarkan Keaslian dan Usia Sejarah Para perawi (ruwāt) dan ahli berita (ahl al-akhbār) hampir sepakat membagi bangsa Arab, dari sisi “ke-tua-an” atau lamanya mereka dikenal dalam sejarah, ke dalam beberapa kelompok utama. Mereka menyebut adanya: Arab bā’idah: bangsa Arab yang telah punah, lenyap dari panggung sejarah, dan hanya tersisa dalam ingatan dan cerita. Arab ‘āribah: Arab asli, yang dianggap murni kearabannya. Arab musta‘ribah: kelompok yang pada asalnya bukan Arab, lalu menjadi Arab (terarabkan) karena pergaulan, pernikahan, dan tinggal di lingkungan Arab. Dalam sebagian riwayat, istilahnya sedikit berbeda, misalnya: Arab ‘āribah, Arab muta‘ribah, dan Arab musta‘ribah; atau Arab ‘āribah dan ...

Kisah Persiapan Menghadapi Perang Uhud

Gambar
Kabar dari Mekah, Tiba di Madinah Berita tentang rencana besar pasukan Quraisy mulai bergerak. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang masih tinggal di Mekah, mengetahui persiapan matang musuh. Mereka telah menghasut berbagai kabilah, mengumpulkan pasukan besar, dan bertekad menyerang Madinah. Dengan cemas, Abbas menulis surat rahasia untuk keponakannya, Nabi Muhammad ﷺ , yang berisi semua detail rencana Quraisy. Surat itu dipercayakan kepada seorang pria dari Bani Ghifar, yang berhasil menyampaikannya ke tangan Nabi di Madinah. Ubay bin Ka’blah yang membacakan surat itu untuk Nabi. Mendengar isinya, Nabi ﷺ meminta Ubay dan beberapa sahabat terpercaya lainnya untuk merahasiakan kabar ini. Kekhawatiran mulai menyelimuti. Untuk memastikan kebenaran informasi, Nabi mengutus dua bersaudara, Anas dan Mu’nis putra Fadhalah, untuk menyelidiki pergerakan Quraisy. Kedua utusan itu kembali dengan laporan yang mengonfirmasi: Pasukan Quraisy sudah mendekati Madinah! Kuda dan unta mereka tela...

Rihlah Ibnu Bathutah #58 : Kisah Sang Amir Khawarizm

Gambar
Pertemuan dengan Sang Penguasa Namanya adalah Amir Quthludumur. Namanya mengandung arti "besi yang diberkahi", karena 'Quthlu' berarti yang diberkahi dan 'Dumur' berarti besi. Dia adalah sepupu dari Sultan Muhammad Uzbak yang agung, sekaligus amirnya yang paling senior. Dia diangkat sebagai gubernur Khurasan. Putranya, Harun Bak, menikahi putri Sultan yang ibunya adalah Ratu Taytughli yang telah kami sebutkan sebelumnya. Istrinya, Khatun Turabak, terkenal dengan kemuliaan akhlaknya. Ketika Qadhi datang memberi salam kepadaku seperti yang telah diceritakan, ia berkata, "Sang Amir telah mengetahui kedatanganmu, tetapi ia masih terserang penyakit yang menghalanginya untuk mendatangimu." Maka aku pun berkuda bersama Qadhi untuk mengunjunginya. Kami tiba di kediamannya dan memasuki sebuah halaman luas yang sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu. Kemudian kami masuk ke halaman kecil yang di dalamnya terdapat sebuah kubah kayu berhias. Dindingnya ...

Dendam Quraisy dan Persiapan Menuju Uhud

Gambar
Kekalahan pahit di Badar masih membara di hati kaum Quraisy Mekah. Kehilangan para pemimpin dan tokoh terhormat mereka membuat api dendam menyala-nyala. Untuk membalas kekalahan itu dan melawan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memutuskan untuk mengerahkan segala sumber daya. Keuntungan perdagangan besar dari kafilah dagang yang hampir menjadi rampasan perang di Badar, senilai lima puluh ribu dinar, mereka kumpulkan di Darun Nadwah sebagai dana perang. Beberapa pimpinan Quraisy mendatangi Abu Sufyan bin Harb. “Muhammad telah mendatangkan malapetaka bagi kita,” kata mereka. “Dia membunuh orang-orang terbaik kita. Kami rela mengorbankan seluruh keuntungan harta ini untuk mempersiapkan perang melawan Muhammad dan pengikutnya.” Semua pemilik saham dalam harta itu pun menyetujui keputusan tersebut. Mereka lalu dengan gigih mengumpulkan pasukan. Sekutu-sekutu mereka dari kalangan Al-Ahabisy dan berbagai kabilah di sekitar Mekah, seperti Kinanah dan penduduk Tihamah, mer...

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

Gambar
Empat Puluh Hari Menyebrangi Padang Pasir Ketika aku berada di As-Sarā, aku berniat untuk bepergian menuju Khawarizmi. Niat itu sudah bulat di dalam hatiku. Namun sang syaikh yang mulia, yang sebelumnya memuliakan dan menjagaku, melarangku. Ia berkata dengan lembut namun tegas, “Tinggallah beberapa hari, barulah kemudian engkau bepergian.” Hatiku gelisah. Jiwaku cenderung ingin segera berangkat. Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah kafilah besar yang sedang bersiap-siap pergi. Di antara mereka ada para pedagang yang sudah kukenal. Aku pun sepakat untuk berangkat bersama mereka. Aku mendatangi sang syaikh dan memberitahukan niatku. Ia kembali berkata, “Engkau harus tinggal.” Namun aku sudah bertekad untuk pergi. Melihat ketegasan niatku, ia berkata, “Tunggulah budakku yang kabur itu; tinggallah karenanya.” Ucapan itu tampak biasa, tetapi kemudian terbukti sebagai salah satu karomah yang nyata. Karomah Budak yang Kembali Tiga hari setelah itu, salah seorang sahabatku mene...

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Gambar
Masa Baru, Musuh Baru Tahun ketiga setelah hijrah ke Madinah adalah tahun yang berbeda bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin. Pada tahun-tahun sebelumnya, musuh utama mereka adalah Quraisy di Mekah dan beberapa kabilah yang berdekatan. Namun kini, medan dan bentuk permusuhan mulai berubah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalin perjanjian dengan banyak suku yang tinggal di sebelah barat Madinah, mulai dari sekitar kota hingga ke pesisir pantai. Dengan perjanjian itu, jalur perdagangan utama Quraisy dari Mekah ke Syam menjadi hampir terputus. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi mereka; tanpa perdagangan, hidup mereka terancam. Quraisy pun mencari jalan lain. Mereka memikirkan jalur gurun yang memutar: dari Mekah menuju wilayah Nejd, lalu naik ke arah Irak dan Syam. Di jalur ini, ada dua suku besar yang sangat penting: Bani Sulaim dan Ghathafan. Keduanya adalah sekutu Quraisy dan diharapkan dapat menjaga keamanan kafilah dagang mereka. Qura...

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Gambar
Di Pasar Buku Kerajaan Romawi Setelah aku berpisah dari raja pertapa yang telah kuceritakan sebelumnya, aku berjalan menyusuri kota dan memasuki pasar bukunya. Di sana berjajar para penjual kitab, para penyalin, dan pelajar. Suasana pasar itu tenang namun hidup, penuh dengan lembaran-lembaran ilmu. Di tengah keramaian itu, Hakim kota melihatku. Ia duduk di sebuah kubah yang tinggi, tempat ia mengurus berbagai urusan. Ia tidak memanggilku langsung, melainkan mengutus salah seorang pembantunya untuk menanyai siapa diriku. Pembantu itu mendatangi orang Romawi yang menyertaiku dan bertanya tentangku. Kawanku itu menjawab bahwa aku adalah seorang penuntut ilmu Muslim yang datang dari negeri-negeri jauh. Ketika kabar itu sampai kepada sang hakim, ia mengutus salah seorang pembantunya yang lain, yang mereka panggil hakim Najasyi Kafali, kepadaku. Najasyi Kafali mendatangiku dan berkata lembut, “Hakim memanggilmu.” Aku pun mengikutinya. Kami naik ke kubah yang telah kusebutkan. Di sana...